Thursday, September 3, 2026
Nasional

ESDM: Subsidi Energi Berpotensi Bengkak Rp300 Triliun Jika Tak Kembangkan EBT

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperingatkan adanya risiko peningkatan beban subsidi dan kompensasi energi hingga sekitar Rp300 triliun apabila pengembangan energi baru terbarukan (EBT) tidak dipercepat.

Peringatan tersebut disampaikan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung dalam kegiatan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Menurut Yuliot, pemerintah telah memperhitungkan dampak kondisi energi global terhadap kebutuhan subsidi dan kompensasi dalam negeri. Tanpa langkah antisipasi melalui peningkatan ketersediaan EBT, tekanan terhadap anggaran negara dapat semakin besar.

Saat ini, besaran subsidi dan kompensasi energi yang menjadi beban pemerintah berada di kisaran Rp400 triliun. Dalam skenario tekanan energi yang semakin tinggi, anggaran tersebut berpotensi bertambah sekitar Rp300 triliun.

Gejolak Geopolitik Jadi Salah Satu Risiko

Yuliot menjelaskan, kondisi geopolitik global menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pasokan serta harga energi. Ketegangan di berbagai kawasan dunia berpotensi mengganggu rantai pasok energi dan meningkatkan biaya energi secara global.

Situasi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap negara-negara yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi fosil.

Bagi Indonesia, kenaikan harga energi dapat berpengaruh terhadap kebutuhan subsidi dan kompensasi pemerintah, terutama ketika harga energi global mengalami volatilitas.

Selain meningkatkan beban fiskal, kenaikan biaya energi juga dapat berdampak pada inflasi serta biaya produksi berbagai sektor ekonomi.

EBT Dinilai Penting untuk Menekan Ketergantungan Energi Fosil

Pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu langkah yang didorong pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Sumber energi seperti tenaga surya, hidro, panas bumi, angin, dan sumber EBT lainnya diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.

Menurut Kementerian ESDM, peningkatan pemanfaatan EBT bukan hanya berkaitan dengan target transisi energi. Pengembangan sumber energi domestik juga dipandang penting untuk meningkatkan kemandirian energi dan memperluas akses energi bagi masyarakat maupun industri.

Beban APBN Bisa Semakin Berat

Potensi tambahan subsidi dan kompensasi sebesar Rp300 triliun menjadi perhatian karena anggaran tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan fiskal pemerintah.

Jika kebutuhan subsidi meningkat secara signifikan, pemerintah perlu menyiapkan ruang fiskal yang lebih besar untuk menutup kebutuhan tersebut. Kondisi itu berpotensi memengaruhi pengelolaan APBN apabila tekanan berlangsung dalam waktu panjang.

Yuliot menyebut peningkatan beban subsidi dan kompensasi juga dapat menimbulkan konsekuensi berupa tekanan pembiayaan yang bersumber dari APBN.

Karena itu, percepatan pengembangan EBT dinilai tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut aspek ekonomi dan fiskal.

Bauran EBT Masih Perlu Ditingkatkan

Kementerian ESDM mencatat bauran energi baru terbarukan Indonesia mencapai 17,3 persen pada semester I 2026. Angka tersebut mengalami perubahan dibandingkan capaian pada kuartal I 2026 yang berada di level 18,3 persen.

Pemerintah kemudian terus mendorong pelaksanaan berbagai proyek EBT agar pemanfaatan energi terbarukan dapat meningkat.

Target peningkatan bauran EBT menjadi salah satu bagian penting dalam strategi transisi energi Indonesia. Percepatan pembangunan pembangkit berbasis energi terbarukan diharapkan dapat memperkuat pasokan energi domestik sekaligus mengurangi risiko yang muncul akibat fluktuasi energi global.

Transisi Energi Bukan Sekadar Target Lingkungan

Pengembangan EBT selama ini kerap dikaitkan dengan upaya mengurangi emisi karbon. Namun, pemerintah juga melihat transisi energi dari perspektif ketahanan ekonomi nasional.

Ketergantungan terhadap sumber energi yang harganya sangat dipengaruhi kondisi pasar internasional membuat perekonomian lebih rentan terhadap gejolak eksternal.

Sebaliknya, peningkatan pemanfaatan sumber energi domestik dapat memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengurangi dampak perubahan harga energi global.

Dengan demikian, percepatan EBT diharapkan dapat memberikan manfaat dalam beberapa aspek sekaligus, mulai dari ketahanan energi, pengendalian risiko fiskal, hingga dukungan terhadap kebutuhan energi industri dan masyarakat.

Pemerintah Didorong Percepat Implementasi Proyek EBT

Tantangan berikutnya adalah memastikan pengembangan EBT tidak berhenti pada tahap perencanaan. Pemerintah perlu mendorong realisasi proyek energi terbarukan agar kapasitas energi bersih dapat bertambah secara nyata.

Percepatan tersebut mencakup pembangunan infrastruktur energi, peningkatan investasi, penguatan jaringan listrik, serta penyediaan regulasi yang mendukung pengembangan proyek EBT.

Dengan kapasitas EBT yang semakin besar, Indonesia diharapkan memiliki sumber energi alternatif yang dapat membantu menghadapi risiko gangguan pasokan dan kenaikan harga energi global.

Ancaman Subsidi Rp300 Triliun Jadi Peringatan bagi Indonesia

Pernyataan Kementerian ESDM mengenai potensi tambahan beban sekitar Rp300 triliun menjadi sinyal bahwa transisi energi memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat besar.

Jika ketergantungan pada energi fosil tetap tinggi ketika harga energi dunia mengalami tekanan, pemerintah berpotensi menghadapi kebutuhan subsidi dan kompensasi yang lebih besar.

Sebaliknya, pengembangan EBT yang lebih cepat dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi kerentanan terhadap gejolak pasar energi global.

Karena itu, pengembangan energi baru terbarukan kini bukan hanya dipandang sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi dan kemampuan fiskal Indonesia.


FAQ Seputar Subsidi Energi dan EBT

1. Mengapa subsidi energi Indonesia berpotensi bertambah Rp300 triliun?

Menurut Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, tekanan tersebut berkaitan dengan kenaikan dan ketidakpastian biaya energi global. Jika tidak diantisipasi dengan ketersediaan EBT, subsidi dan kompensasi energi yang berada di sekitar Rp400 triliun berpotensi meningkat sekitar Rp300 triliun.

2. Apa hubungan EBT dengan subsidi energi?

Semakin besar pemanfaatan sumber energi domestik dan terbarukan, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang rentan terhadap perubahan harga global.

3. Berapa bauran EBT Indonesia pada semester I 2026?

Kementerian ESDM mencatat bauran energi baru terbarukan mencapai 17,3 persen pada semester I 2026.

4. Apa dampak kenaikan harga energi terhadap ekonomi?

Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan biaya produksi, memberikan tekanan terhadap inflasi, serta meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi pemerintah.

5. Mengapa pemerintah mempercepat pengembangan EBT?

Pengembangan EBT ditujukan untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi, memperluas akses energi, serta mengurangi risiko yang muncul akibat ketidakpastian pasokan dan harga energi global.