Menghalau Api yang Tak Kunjung Padam di Berau

Karhutla Masih Mengancam Berau
Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi cuaca yang panas dan relatif kering. Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan sejak 11 Agustus 2026.
Situasi tersebut membuat upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran terus dilakukan di sejumlah wilayah. Tantangan di lapangan tidak hanya berasal dari kobaran api, tetapi juga kondisi lingkungan yang kering sehingga api berpotensi lebih cepat menyebar.
Pemerintah Kabupaten Berau menyebut suhu udara sempat mencapai 37,8 derajat Celsius. Kondisi panas tersebut turut disertai kabut dan asap yang membuat jarak pandang di sekitar Bandara Kalimarau berada pada kisaran 2 hingga 4,5 kilometer.
Musim Kemarau Membuat Api Lebih Sulit Dikendalikan
Cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan kebakaran. Saat curah hujan rendah dan vegetasi mengering, api dapat lebih mudah menjalar dari satu titik ke wilayah lain.
BMKG Berau memperkirakan kondisi kemarau masih berlangsung hingga akhir September 2026. Hujan merata di seluruh wilayah Berau diperkirakan baru akan muncul setelah periode tersebut berlalu.
Kondisi ini membuat kewaspadaan perlu dipertahankan. Rekayasa cuaca yang dilakukan pemerintah memang dinilai memberikan dampak positif terhadap penurunan jumlah titik panas, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada ketersediaan awan yang dapat menghasilkan hujan.
Asap Menjadi Persoalan Lain
Selain menghadapi api, masyarakat Berau juga harus berhadapan dengan dampak asap.
Kondisi udara di sejumlah wilayah sebelumnya dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat. Masyarakat yang berada di kawasan terdampak asap diimbau menggunakan masker dan terus memantau perkembangan kualitas udara serta informasi cuaca.
Asap juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama ketika jarak pandang berkurang. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
BMKG Berau mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah. Aktivitas tersebut dapat memperburuk kualitas udara sekaligus meningkatkan risiko munculnya titik api baru.
Api Mendekati Area Persawahan Warga
Ancaman karhutla bahkan sempat mendekati kawasan persawahan warga di Kampung Trans Bangun, Kecamatan Sambaliung.
Kemunculan titik api di sekitar area pertanian membuat petani khawatir kebakaran merambat ke lahan mereka. Tim Satgas Karhutla kemudian dikerahkan untuk melakukan pemadaman sekaligus mencegah api bergerak menuju persawahan.
Data yang dikutip Metro TV menunjukkan sebanyak 497 titik panas terpantau di Berau pada 31 Agustus 2026. Jumlah tersebut menurun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 778 titik, tetapi Berau masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di Kalimantan Timur pada periode tersebut.
Petugas Terus Bergerak di Lapangan
Upaya pemadaman dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur. Salah satu penanganan terbaru dilakukan Tim Siaga Karhutla Kompi 3 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Kaltim di Kecamatan Teluk Bayur pada 2 September 2026.
Petugas menangani kebakaran yang membakar lahan sekitar satu hektare. Tim melakukan pengisolasian dan pemadaman untuk mencegah api merambat ke kawasan di sekitarnya.
Respons cepat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Semakin cepat titik api ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.
Perusahaan Ikut Membantu Pemadaman
Penanganan karhutla di Berau juga melibatkan pihak perusahaan yang memiliki wilayah konsesi.
Tiga perusahaan, yakni PT Yudha Wahana Abadi, PT Anugerah Agung Prima Abadi, dan PT General Aura Semari, disebut turut membantu pemadaman kebakaran di luar area konsesi. Sepanjang 2026, ketiganya tercatat telah 37 kali membantu penanganan kebakaran di lahan warga.
Selain pemadaman, kegiatan pencegahan dilakukan melalui patroli gabungan bersama pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta masyarakat.
Langkah tersebut menjadi penting terutama ketika memasuki puncak musim kemarau, saat potensi kebakaran meningkat.
Pencegahan Tidak Kalah Penting dari Pemadaman
Penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi.
Pemetaan wilayah rawan, patroli rutin, sosialisasi kepada masyarakat, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi bagian dari strategi pencegahan.
Kementerian Kehutanan juga meminta para pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) meningkatkan kesiapsiagaan selama periode cuaca kering. Pemerintah menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga kawasan hutan agar tidak terbakar.
Dengan kondisi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung, kewaspadaan di Berau perlu dipertahankan. Penurunan jumlah titik panas pada suatu hari belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Polisi Mengusut Kasus Pembakaran Lahan
Selain tindakan pemadaman, aparat juga melakukan penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran lahan.
Polres Berau sebelumnya menetapkan dua tersangka baru dalam kasus karhutla. Dengan penambahan tersebut, jumlah tersangka yang diamankan dalam perkara yang ditangani kepolisian menjadi empat orang.
Dua tersangka baru tersebut, berinisial P dan MS, masing-masing diduga membakar lahan di Kecamatan Gunung Tabur dan Kecamatan Pulau Derawan. Polisi menyebut dugaan pembakaran berkaitan dengan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.
Penegakan hukum menjadi salah satu bagian penting untuk mencegah pembakaran lahan dilakukan secara sengaja.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, aparat, perusahaan, relawan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam mencegah munculnya titik api maupun menangani kebakaran yang sudah terjadi.
Masyarakat juga dapat berperan dengan tidak melakukan pembakaran terbuka dan segera melaporkan apabila melihat asap atau titik api.
Di sisi lain, kesiapan petugas menjadi penting untuk memastikan laporan dapat ditindaklanjuti sebelum api berkembang semakin besar.
Berau Masih Harus Waspada
Kondisi Berau menunjukkan bahwa perjuangan menghadapi karhutla belum selesai. Cuaca panas, minim hujan, vegetasi kering, dan kemunculan titik panas membuat potensi kebakaran tetap perlu diwaspadai.
Meski sejumlah upaya telah berhasil menekan sebagian titik api, pemerintah dan masyarakat tidak dapat lengah. Terlebih, prakiraan cuaca menunjukkan periode kering masih dapat berlangsung hingga akhir September.
Api yang terus berusaha dihalau bukan hanya persoalan pemadaman. Di baliknya terdapat tantangan menjaga hutan, lahan pertanian, kualitas udara, dan keselamatan masyarakat.
Karena itu, pencegahan menjadi pertahanan pertama. Menghindari pembakaran lahan dan sampah, menjaga lingkungan, serta melaporkan titik api sedini mungkin dapat membantu mengurangi risiko kebakaran semakin meluas.
FAQ
1. Apa yang terjadi dengan karhutla di Berau?
Kabupaten Berau masih menghadapi ancaman karhutla di tengah kondisi cuaca panas dan kering. Pemerintah daerah masih menerapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan.
2. Berapa suhu tertinggi yang tercatat di Berau?
Suhu udara Berau sempat mencapai 37,8 derajat Celsius pada periode awal September 2026.
3. Sampai kapan kemarau diperkirakan berlangsung?
BMKG Berau memperkirakan kondisi kemarau masih berlangsung hingga akhir September 2026.
4. Apakah petugas masih melakukan pemadaman?
Ya. Tim gabungan dan unsur terkait masih melakukan penanganan di berbagai titik. Salah satunya adalah pemadaman kebakaran sekitar satu hektare di Kecamatan Teluk Bayur pada 2 September 2026.
5. Apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah karhutla?
Masyarakat diimbau tidak membakar lahan maupun sampah secara terbuka, menjaga area sekitar tetap aman dari sumber api, serta segera melaporkan jika menemukan asap atau titik kebakaran.
